Penulis: Katry Anggraini, S.Sos., M.I.Kom.
Editor: Gina Fauziah, S.Sos., M.I.Kom.
Tebal: x + 155 hal
Ukuran: 14,8 x 21 cm
ISBN : Sedang diproses
SINOPSIS
Buku Komunikasi Digital dan Kecerdasan Buatan: Transformasi, Etika, dan Kekuasaan Algoritma hadir sebagai sebuah risalah filosofis dan sosiologis yang membedah krisis eksistensial manusia di tengah lautan otomatisasi. Di era kontemporer, teknologi tidak lagi sekadar beroperasi sebagai alat bantu mekanis yang pasif, melainkan telah bermetamorfosis menjadi agen sosio-teknis yang mengonstruksi realitas, mendikte interaksi sosial, dan menata ulang batas-batas kedaulatan batin individu. Karya ini menelusuri secara kritis bagaimana penetrasi kecerdasan buatan telah mengubah lanskap komunikasi dari sekadar medium pertukaran pesan menjadi sebuah ekosistem hibrida yang mengikat, di mana identitas, emosi, dan otonomi kehendak bebas manusia secara terus-menerus dihadapkan pada presisi kalkulatif dari mesin silikon yang tak bernyawa.
Secara tajam dan mendalam, buku ini membongkar arsitektur kekuasaan tersembunyi di balik baris kode algoritma yang melahirkan fenomena kapitalisme pengawasan dan komodifikasi pengalaman manusia. Pembaca diajak untuk menyelami labirin etika era otomatisasi, mulai dari bias diskriminatif historis yang direplikasi oleh kecerdasan buatan, manipulasi arsitektur pilihan di alam bawah sadar, hingga matinya ruang publik deliberatif akibat kurasi gelembung filter yang memicu polarisasi emosi massa. Dengan berpijak pada kacamata etika humanis, karya ini mengkritisi bahaya laten dari pendelegasian wewenang moral kepada entitas komputasi, menyoroti kekosongan akuntabilitas ketika mesin mengambil keputusan yang memengaruhi nasib nyawa manusia, serta menegaskan kembali urgensi perlindungan privasi sebagai fondasi utama kemerdekaan berpikir.
Lebih dari sekadar memetakan ancaman distopia teknologi yang suram, buku ini menawarkan sebuah sintesis peradaban yang berupaya merajut kembali harmoni antara keluhuran daya cipta kemanusiaan dan efisiensi algoritma. Melalui gagasan penguatan literasi digital kritis dan pembangunan resiliensi sosial komunal di akar rumput, karya ini memberikan peta jalan epistemologis bagi masyarakat sipil untuk merebut kembali kedaulatan kognitifnya dari cengkeraman rekayasa manipulatif mesin. Pada akhirnya, mahakarya intelektual ini merupakan sebuah seruan universal untuk memastikan bahwa lompatan eksponensial inovasi digital di masa depan harus selalu ditundukkan di bawah panji keluhuran budi, menempatkan teknologi secara mutlak hanya sebagai pelayan yang mengabdi pada kesejahteraan, keadilan, dan martabat umat manusia seutuhnya.
